Selasa, 22 November 2011

KANKER RAHIM

3 Jenis Kanker Rahim yang Paling Banyak Menyerang Wanita

Orang awam mengenal kanker rahim adalah salah satu jenis saja. Namun sebenarnya kanker rahim itu memiliki lebih dari satu jenis.
Cukup banyak jenis kanker rahim, ada tiga jenis yang paling banyak menyerang wanita, kanker serviks (leher rahim), kanker ovarium (indung telur), dan kanker endometrium (badan rahim).
Kanker serviks atau kanker mulut rahim memang patut ditakuti kaum wanita. Di Indonesia, kanker ini tercatat sebagai pembunuh nomor satu kaum hawa. Sayangnya, informasi yang berkaitan dengan kanker serviks belum dapat menjangkau seluruh masyarakat terutama kaum wanita. Padahal, semua wanita berisiko kanker yang menyerang organ utama mereka, termasuk paling banyak menyerang ibu-ibu.
Dokter spesialis kandungan, dr Masdulhaq SpOG mengatakan, resiko akan semakin meningkat dengan bertambahnya usia dan menyentuh kehidupan wanita pada saat-saat terpenting dalam hidupnya yaitu antara usia 30-50 tahun. “Justru pada saat para wanita masih aktif bekerja dan bertanggung jawab atas anak atau anggota keluarga lainnya,” ujarnya.
Dikatakannya, gejala kanker serviks yakni, terdapat keputihan berlebihan, berbau busuk, dan tidak sembuh-sembuh. Memang, tak semua keputihan pertanda ada kanker. Sebab, keputihan pun bisa karena ada rangsangan lain. “Karena itu, kalau timbul keputihan abnormal sebaiknya periksa ke dokter, apakah itu kanker atau bukan,” ujarnya.
Gejala lain, sambung dia, terdapat perdarahan di luar siklus haid. Terutama perdarahan setelah berhubungan intim. Untuk memastikannya harus diperiksa dokter, karena perdarahan bisa juga terjadi akibat gangguan keseimbangan hormon. Bila kanker sudah mencapai stadium 3 ke atas, maka akan terjadi pembengkakan di berbagai anggota tubuh, seperti di paha, betis, tangan, dan sebagainya. Tapi, jika masih prakanker justru tak ada gejala.
Bagi wanita yang telah berhubungan seks, kata Masdulhaq, lakukan pemeriksaan Pap’s smear dengan mengambil getah serviks dari vagina yang akan diperiksa ahli patologi. “Pap’s smear bisa mendeteksi prakanker sampai kanker sehingga memungkinkan dilakukan pengobatan cepat dan tepat. Lakukan pemeriksaan secara berkala, setahun sekali,” tambahnya.
Penyebab kanker serviks adalah infeksi atau reinfeksi HPV (Human papilloma virus). Sekitar 99,7 persen kanker serviks disebabkan HPV onkogenik atau penyebab kanker. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa HPV 16 dan 18 merupakan penyebab utama pada 70 persen kasus kanker serviks di dunia.
Ada beberapa faktor yang dapat mempertinggi kemungkinan infeksi HPV berubah menjadi kanker. Antara lain kebiasaan berhubungan seks yang abnormal, berganti-ganti pasangan, merokok, menikah pada usia yang sangat muda serta usia yang semakin tua. “Bagi wanita yang menikah di usia muda, hubungan seksual dilakukan saat serviks belum matang sehingga mudah ditembus virus. Sedangkan, bagi wanita yang sudah tua, risiko semakin tinggi karena penurunan proses recovery dari sel sehingga lebih mudah ditembus oleh virus,” jelas Masdulhaq.
Perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks sebenarnya memakan waktu cukup lama, bisa mencapai 10-20 tahun. Sayangnya, proses ini seringkali tidak dirasakan para penderita. Pasalnya, proses infeksi HPV kemudian menjadi prakanker sebagian besar berlangsung tanpa gejala.
Kanker Ovarium. Gejalanya ditandai dengan perut terasa begah, kembung, tidak nyaman. Tapi gejala ini tidak spesifik. Bahkan, kebanyakan justru tak merasakan gejala apa-apa. Gejala selanjutnya perut membesar, terasa ada benjolan, nyeri panggul, gangguan BAB (buang air besar) akibat penekanan pada saluran pencernaan dan saluran kencing. Bahkan pada keadaan yang lebih lanjut, dapat terjadi penimbunan cairan di rongga perut sampai mengalir ke rongga dada, sehingga perut tampak sangat membuncit. “Terkadang disertai sesak napas. Kalau sudah demikian, biasanya sudah terlambat ditangani,” paparnya.
Untuk mendeteksi dini kanker ovarium, dr yang pernah bertugas di RSU Pirngadi Medan ini mengatakan, kerap terjadi keterlambatan deteksi akibat sulit mendeteksinya pada stadium dini. “Karena lokasi ovarium berada di dalam rongga panggul, sehingga tak terlihat dari luar. Biasanya kanker ditemukan lewat pemeriksaan dalam. Bila ditemukan kista, maka akan di-USG, apakah terdapat tanda-tanda kanker atau tidak,” bilangnya.
Kanker Endometrium. Gejala awal kanker endometrium terdapat perdarahan, terutama pada pasca menopause atau diluar masa haid. Juga bila haidnya sangat lama dan banyak. “Karena dengan haid lama dan banyak, maka berarti endometriumnya semakin menebal,” kata dia.
Untuk mendeteksi dini kanker endometrium, umumnya penderita lebih awal melakukan pemeriksaan sehingga sebagian besar penyakit ini diketahui pada stadium awal. Pemeriksaan USG dilakukan untuk melihat ketebalan dinding edometrium. Selanjutnya dilakukan kuretase. “Cairannya akan dibawa ke patologi untuk dilihat apakah kanker atau bukan,” tuturnya.
Sedangkan pengobatan dari tiga kanker rahim tersebutnya, lewat operasi sederhana, besar, khusus. Seperti halnya operasi lainnya, biaya yang dikeluarkan tidak murah. Kerumitan operasi tergantung kepada tingkat stadium kanker. Ada juga dengan radiasi atau kemeoterapi namun memiliki dampak yang beragam tergantung kepada kondisi dan stamina penderita.
Kemoterapi merupakan cara pengobatan kanker yang paling mahal karena memerlukan proses yang berulang untuk menuntaskannya. Dan dampaknya juga cukup menyiksa si pasien sendiri.
Pengobatan alternatif adalah salah satu yang dipilih penderita yang kondisi keuangannya kurang menunjang. Pengobatan alternatif juga bermacam macam namun yang saat ini sedang ramai adalah dengan herbal dan juga dengan meditasi. Back to nature dianggap sangat membantu karena gejala kanker juga diyakini akibat ketidakseimbangan alam dan kehidupan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar